Dapatkan widget animasi ini !

Wednesday, May 18, 2022

Pengalaman Eyelash

 Eyelash

Saya orang awam, tidak terlalu tahu dunia salon, tidak terlalu bisa menjabarkan juga tentang eyelash.

Saya hanya mau bercerita sebagai pengguna eyelash awan.

Awal pasang bulan Maret 2021

Ke klinik kecantikan gitu didaerah saya,

Dipasangkan tipe natural yang helai per helai, dulu bayarnya 150.000

Bagus banget, biasanya saya tidak PD kalau videocallan setelah mandi karena muka sudah kembali natural. (bibir hitam)

Setelah pasang, benar-benar mata on point.

Kehitaman bibir tersamarkan karena fokus lebih ke bulu mata.

Ini bertahan 3 minggu, karena saya sangat berhati hati merawatnya.

Pasang sore, tidak kena air sampai pagi,

Menjauhi uap panas.

Tidak mandi dengan air hangat karena lem bulu matanya nanti mengelupas.

Cuci muka, sebisa mungkin tidak mengucek mata.

Perhari ya ada yang rontok, wajar sih menurut saya.


2 bulan berikutnya saya pasang di tempat berbeda,

Pasangnya tidak perhelai , jadi pas udah selesai , bulu matanya tidak bisa disisir.

Mana perih banget lagi sampai besoknya. Huhu, bayarnya 80 ribu untuk yang premium natural.

Ini gak nyaman banget, akhirnya kupaksa lepas padahal baru 4 hari.

Mataku kurendem air hangat. Susah banget gk lepas-lepas.

Karena kejadian ini, bulu mata asliku jadi gundul.


Akhirnya pasang lagi, biaya 50rb natural. Hasilnya kayak waktu saya pasang pertama yang biayanya 150rb.


Gak usah ragu sih kalau mau pasang. Kalau gak cocok tinggal lepas aja. 

Efek buruk disaya sih sejauh ini tidak ada. Cuma gatel aja paling. 

Monday, May 2, 2022

Lebaran 2022

Aku pulang ke kampung halaman,

Seperti tahun sebelumnya, tidak ada perubahan. 
Pulang naik motor sendiri, sehari menjelang lebaran. 
Sebenarnya aku sudah libur tiga hari sebelum itu, namun aku tidak ada semangat untuk pulang. (Nanti kuceritakan di judul selanjutnya, tapi aku tidak janji. Karena menulis bergantung moodku). 

Seperti biasa, sampai rumah aku mandi air panas. Lalu tidur.
Ayahku masih sama, 
Ibuku juga masih sama, cuma lebih menua.
Malam takbir aku pergi ke tempat temanku,
Kami mengobrol sangat serius, yang isinya hanya gosip gosip dan pastinya tetap gosip, haha

Memang apalagi yang diperbincangkan dua orang wanita yang sudah lama tidak betemu selain  aib orang lain? 
Hehe
Kami berhadapan sambil saling berbagi informasi, sesekali dia ke belakang menengok anaknya yang sedang tertidur. Suaminya di depan sedang berbincang dengan ayahnya, memberi kami ruang utuk saling melepas rindu.
Aku sangat bahagia bertemu dia,
 disisi lain, aku iri. 
Hidupnya begitu lengkap, 
Anak, suami, rumah, dan cicilan. 
Aku iri, aku ingin seperti dia. 
Walau yang sudah dia lalui untuk sampai pada titik ini pun tidak sepenuhnya lancar.
Aku iri bukan berarti sirik dengan hidupnya. 
Hanya mengakui bahwa aku ingin seperti dia. 

Dia pernah bercerita bahwa dia pernah benar-benar tidak bisa makan,
Dan sekarang aku sedang diposisi nya, 
Bedanya, dia tidak bisa makan dengan suaminya, menangis bersama, menderita bersama. 
Sedangkan aku, aku tidak bisa makan sendiri, karena aku hidup sendiri, menangis sendiri. 
Di sebelah sisi, aku berpikir 
"Kalau memang aku sedang mengalami fase susah seperti yang dulu dia rasakan. Berarti aku akan ada di fase dia sekarang"
Tapi... Tapikan aku susah sendirian. 
Mandiri sekali... 

Aku iri, bukan berarti aku ingin syirik. 
Aku selalu mendoakan temanku ini hidup bahagia, selamanya. Tidak akan merasa susah dan sedih lagi.

Kemudian aku pulang. 


Siang dihari lebaran, setelah menyambut tamu yang diluar dugaan (karena kupikir akan sepi. Ternyata sangat ramai.)
 
Tetanggaku, teman sepermainan ku. Dia pulang, bersama suami dan anak. 
Aku menjerit kesenangan, tidak menyangka dia pulang setelah 4 tahun keberadaannya tidak dianggap ibu kandungnya sendiri. 
Dia hamil di luar angkasa... 
Yakalee, canda, 
Dia hamil diluar ikatan pernikahan.
Hamil dengan sepupunya sendiri. 
Karena kesalahannya, ibunya sempat diusir dari rumah. 
Aku salut dengan keberaniannya, akhirnya mereka mau berusaha menggeser sekat yang ibunya bangun.
Kami sempat berbasa-basi, yang dulunya kami sangat blak-blakan, sekarang lebih tertutup. 
Dia bercerita seadanya, aku bertanya seperlunya. 

Lalu dia pulang, menemui anaknya. Memanggil suaminya, 
"Pah, gak usah masak ya. Ada gado-gado."
Ya, orang yang dulu dipanggil mas karena sepupu. Sekarang dipanggil papa. 

Bumi cepat sekali berputar, dan aku masih begini-begini saja.
Mungkin selama ini, aku merantau di bulan. 

Friday, February 11, 2022

Semoga Kamu Tidak Membaca Ini

Aku pernah mengenal, seorang pria dengan segala cerita imajinasinya
Kami berkenalan, dia tertarik, akupun tertarik

Namun ada suatu kisah lama yang menghambat kami

Belum usai
Aku belum usai dengan dendamku
Dia belum usai dengan kenangannya

Dia berpikir bisa saling membantu untuk melunturkan kenangan itu
Aku memilih menjauh karena jika aku belum usai dengan masalalu ku
Aku tidak akan mempersilakan orang baru masuk
Sangat beresiko

Aku pernah merasakan sakit hati sebagai “pelarian”
Sehingga kuharap dia tidak merasakan yang ku rasakan

Aku memilih menjauh, dengan kata terakhir yang menyakitkan dirinya

Aku ingin meminta maaf
Tapi kutakutkan kita akan berkomunikasi lagi
Dan aku memberi harapan lagi
Maafkan aku,
Semoga kamu tidak membaca ini

Tuesday, January 11, 2022

2021

 Sebenarnya aku ingin menulis bertema “Terima kasih 2021”

Aku berusaha memeras otakku dari tanggal 29 Desember supaya tepat tanggal 31 Desember 2021, tulisanku lahir.

Tapi otakku dangkal sekali,

Sial hahaha

Dan aku tidak berusaha keras membuatnya hidup.

Sekarang karena aku sedang malas bekerja,

Kucuri waktu untuk mengulas 2021.

2021 sepertinya hidup tanpa bebanku, walaupun struggle ku sangat banyak.

Mulai aku melepaskan pekerjaan yang gajianya dua setengah kali lipat dari UMR, lalu dengan berat hati aku meninggalkan kota “Yogyakarta”’

Kota yang sangat kucintai, kota yang selalu menjadi tujuan utamaku lari jika aku ingin berlibur sendiri.

Dalam tahun ini, aku tiga kali berganti tempat kerja.

Meninggalkan perusahaan benefit, 

lalu mengambil pekerjaan di perusahaan furniture kecil demi bisa menyemat karyawan tetap, hanya berangkat sehari. Aku mundur.

Akhirnya beberapa hari kemudian bekerja di tempat lain yang prestise di masyarakat akan dihormati dan dibilang “waaahhh….”

Ditahun ini, yang kurasa berat karena aku harus meninggalkan kota impian.

Itupun di awal tahun 2021, bulan Januari. Aku sangat ingat.

Tapi karena sudah terjadi awal tahun, saat akhir tahun , aku tidak terlalu mempermasalahkannya.

2021 ku sangat datar, kujalani tanpa perasaan.

Kuharap 2022 ku juga seperti itu, 

Aku tidak terlalu banyak berharap.

Cukup

Semua terasa cukup,

2022

Tetaplah musim hujan, turun hujan.

Tetaplah musim panas, matahari bersinar terik.

Cukup

Tuesday, November 23, 2021

Untuk Diri Sendiri

 Berjalan, pelan, di tempat, tanpa tujuan.

Kupikir ini hidup yang stabil dan sedikit bisa diandalkan.

Aku bekerja, aku mempunyai penghasilan tetap walau tanpa bonus.

Aku manis, aku menarik.

Semua cukup sederhana,

Aku tidak perlu mengingikan sesuatu yang berlebihan.

Seperti ini saja,

Tidak perlu menambah list keinginan, supaya tidak berusaha lebih berat.


Dulu kupikir hidup seperti ini kurang tantangan,

Dulu kupikir orang yang menjalani hidup seperti ini adalah orang pecundangn

Dulu kupikir orang tipe ini adalah orang yang tidak mau berusaha.


Sekarang aku menemui diriku atas definisiku Dulu.

Orang kurang tantangan, pecundang dan tidak mau berusaha.


Tapi aku punya pembelaan wahai diriku di masa lalu,

Aku tidak seperti yang kau pikir,

Aku hanya berharap hidup tenang, damai, tanpa tuntunan.

Sederhana saja seperti nasi padang depan gang kosan.


Diriku di masa lalu,

Mari kita berbicara,

Aku ingin menyampaikan banyak terima kasih

Atas semua ambisimu,

Atas semua pengembaraanmu,

Atas kesediaanmu tidur di sembarang tempat,

Haha, bolehkan kuulas sedikit soal kebiasaan tidurmu?

Baik kumulai,

Kau waktu masih sekolah adalah anak yang hanya bisa tidur saat lampu dimatikan, berselimut dan pintu terkunci.

beranjak bisa mendapatkan KTP, yang artinya kau berumur 17 tahun dan harus keluar dari rumah.

Kau mulai mengenal dunia di luar daerahmu.

Kau menempa dirimu.

Kau mulai bisa tidur dikeramaian, berawal tidur di Sanggar Teater yang selalu saja ada kehidupan 24jam di sana. Hari pertama, kau demam saat itu. Karena tidak terbiasa tidur di luar ruangan.

Lalu kau mulai terbiasa, lebih menantang dirimu sendiri.

Menjadi backpacker, keliling Yogyakarta dan Solo dengan uang pas-pasan waktu itu.

Tidurmu hanya untuk selingan disela perjalanan seru.

Lalu kau tidur di gunung,

Aku ingat waktu itu, 

Pertama ke gunung untuk PDKT, kau dan chrush mu tidur bersebelahan. Tidur sopan kataku, karena tidak ada sentuhan sama sekali.

Kedua kau ke gunung untuk menyalurkan energi patah hati.

Dan kesekian kalinya tidur di gunung kau jadikan sebagai kegiatan mengisi waktu luang.

Sudah cukup ya perkara tidur.

Dalam sudut pandang manapun, aku tetap mengagumimu, wahai diriku di masa lalu.

Berkali-kali lagi,

Terima kasih,

Terima kasih karena pernah menantang pencapaian diri sendiri di masa lalu,

Terima kasih pernah begitu gigih dan keras kepala,

Terima kasih pernah punya semangat berjuang.

Aku bangga padamu, diriku di masa lalu.


Berkatmu, 

Sekarang menurutku, halal saja untuk aku menjalani hidup tanpa ambisi, 

selalu merasa cukup dan tidak mudah memiliki ekspetasi berlebih selain ingin makan nasi goreng komplit tanpa kecap dengan taburan acar berlimpah sebagai menu makan sore nanti.


Ah aku jadi lapar, kucari nasi goreng dulu ya, 

Kalau tidak ada, aku beli Ayam Chicken pinggir jalan saja.

Aisyah

 Namanya Aisyah

Gadis kecil yang sekarang sudah tahun pertama di Sekolah Dasar. 

Kami berkenalan sejak dia masih dalam kandungan.

Ya karena kami bertetangga.

Dia masih usia tiga bulan saat itu, saat hal memilukan dan penuh mendung diatas kepala ibunya dan seluruh keluarga besarnya.

Harus berbesar hati menerima kenyataan, bahwa tulang punggung keluarganya meninggal.

Iya, ayah Aisyah meninggal.

Saat Aisyah belum puas mengompoli ayahnya,

Saat Aisyah belum bisa memegang tangan ayahnya untuk bisa dibantu latihan berjalan. 

Oh mungkin terlalu dramatis aku bilang 'latihan berjalan'. 

Baik Kurevisi, 

Saat Aisyah belum bisa dibantu tangan ayahnya untuk latihan tengkurap. 

Pikiran berkecamuk di kepala ibunya melihat tubuh suaminya tanpa nyawa ; 

Bagaimana bisa meneruskan hidup sedangkan tidak bekerja. 

Bagaimana nanti anak pertamanya menikah tanpa disaksikan ayahnya. 

Bagaimana membiayai 3 anak lainnya yang masih sekolah. 

Bagaimana bisa mencari uang sedangkan anak terakhir (ya Aisyah) masih merah-merahnya. 

Ibunya hanya bisa terduduk lemas, sambil disalah-salahkan kakak iparnya atas kepergian adiknya. 


Sedangkan Aisyah digendong budhenya,

Saat itu, semua mata menatap nanar si Aisyah bayi tiga bulan. 

Penuh rasa kasihan, prihatin, sedih. Tapi tidak membantu. 


Sekarang, Aisyah sudah bisa berjalan, sudah bisa memukul teman yang dia rasa tidak cocok dengannya. 

Ah gemasnya. 

Dia juga terkadang meneleponku dari handphone pemberian kakak keduanya. 

Jadi rindu Aisyah

Dan

Rumah 

Wednesday, November 17, 2021

Selamat Ulang Tahun 26

 Hay,

Selamat ulang tahun ya

Sudah 26 tahun sekarang.

Tidak perlu khawatir kutanyakan pencapaian lagi seperti 25 kali ulang tahun kemarin.

Bisa melewati setiap hari dengan masih hidup saja, itu sudah cukup.

Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu terlalu berambisi.

Jalani,

Nikmati,

Senangi.

Sepertinya tahun ini yang dibutuhkan hanya kenyamanan.

Selamat ulang tahun ya gadis pas-pasan.

SEMOGA SELALU AMAN, NYAMAN DAMAI SENTOSA